Indonesia dan Pembantaian Suku Tionghoa Berjiwa Nasionalis

Judi Bola Online Judi Bola Online Judi Bola Online Agen Judi Poker Online Agen Judi Poker Online

Berita Sejarah Indonesia – Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki suku, ras, budaya dan agama yang berbeda terbesar di dunia. Selain itu, keramahan dan kesopanan warga negara Indonesia sudah banyak diakui oleh negara lain. Namun, tidak banyak yang mengetahui sejarah kelam dibalik kehidupan masyarakat Indonesia. Sebelum menjadi seperti sekarang, banyak sudah yang dikorbankan untuk negara tercinta ini. Meski sudah menjadi sejarah masa lalu, tetapi hal ini tidak bisa dilupakan begitu saja. Masih ada saja orang yang ingin memecah belah bangsa ini dengan menjadikan kaum minoritas sebagai tumbal. Tanpa mereka sadari, perjuangan untuk mendapatkan status sebagai sebuah negara yang merdeka tidak dapat mereka lakukan sendiri. Meski berstatus sebagai kaum minoritas, demi Indonesia mereka juga membantu perjuangan mengusir penjajah yang terus menjadi parasit di tanah air kita. Perjuangan mereka seakan dilupakan dan ditelan waktu. Bukan mendapatkan status sebagai warga negara yang sama, mereka justru dibantai oleh saudara satu tanah air mereka sendiri.


1. Tragedi Pembantaian Suku Tionghoa 09 Oktober 1740 di Batavia

Tragedi pembantaian Suku Tionghoa pada 09 Oktober 1740 lebih dikenal dengan Tragedi “Geger Pecinan”. Tragedi ini menjadi awal mula Suku Tionghoa dibantai secara besar-besaran. Meski tidak dilakukan oleh suku warga negara Indonesia lainnya, tragedi ini tidak lepas dari perhatian dunia. Berawal dari masa penjajahan Belanda, suku Tionghoa pada saat itu dikenal sebagai pendatang di Batavia. Akibat harga gula yang turun pada masa itu, pengangguran di kota Batavia meningkat drastis. Dengan tingkat pengangguran yang tinggi, jumlah pendatang dari Cina malah semakin banyak. Tercatat sebanyak 4.000 orang Cina tinggal didalam tembok kota. 10.000 lainnya tinggal di luar tembok kota. Pendatang dari Cina ini sendiri diharapkan dapat menghidupkan kembali perekonomian di kota Batavia. Bahkan, VOC menunjuk seorang kapitan untuk mengatur masyarakat Cina di dalam tembok kota Batavia.

Berita Sejarah Indonesia

Kerusuhan mulai terjadi saat Gubernur Jenderal VOC, Adriaan Valckenier memerintahkan untuk mengirimkan pengangguran ke Sri Lanka. Dipindahkannya pengangguran ini karena VOC memiliki benteng dan kota persinggahan di Sri Lanka. Seiring dengan kebijakannya ini, terdapat isu yang mengatakan VOC bukan mengirimkan pengangguran ke Sri Lanka. Pengangguran yang dikirim dibunuh dengan cara dibuang ke laut. Akibatnya, masyarakat Cina yang tinggal diluar tembok kota mengancam akan melakukan pemberontakan di kota. Seruan ini mendapatkan dukungan dari Masyarakat Cina yang tinggal di dalam kota.

Daftar, Ambil Bonusmu, dan Menang Bersama JajanPoker Sekarang !!!

Pemberontakan Masyarakat Cina terhadap VOC.

Pemberontakan Masyarakat Cina ini berhasil menduduki Meester Cornelis, sekarang Jatinegara. Melihat hal ini, VOC tidak tinggal diam. Pada tanggal 09 Oktober 1740, VOC mulai melakukan pembersihan Warga Cina di dalam dan luar kota. Tidak ada yang tersisa, baik Pria, Wanita, bahkan anak-anak tidak luput dari kekejaman VOC. Tragedi ini berlangsung selama 4 hari. Tidak ada satupun orang Cina yang tersisa di kota Batavia. Beberapa yang berhasil selamat, lari untuk mencari bantuan. Namun, kabar tragedi ini terdengar sampai Kesultanan Banten. Perjuangan melawan penjajahan ini malah tidak mendapat dukungan dari Kesultanan Banten. Gagal memasuki Banten, para pelarian ini menuju ke Timur. Sebagai aksi balas dendam terhadap VOC, mereka bergabung dengan Komunitas Cina Semarang dan kembali menyerang VOC di Rembang. Pemberontakan ini menjadi perlawanan terhebat orang-orang Cina kepada VOC dalam sejarah Indonesia.

Berita Sejarah Indonesia

Penolakan yang dilakukan Kesultanan Banten sangat disayangkan banyak pihak. Andai saja Raja Kartasura, Susuhunan Pakubuwana II menerima dan memberikan bantuan, maka bukan tidak mungkin VOC dapat diusir dari tanah Jawa. Karena kesalahan ini, VOC kembali berhasil menguasai keadaan setelah mengatasi pemberontakan yang dilakukan Masyarakat Cina di Batavia. Perseteruan ini baru berakhir 15 tahun setelahnya. Berakhirnya perseteruan ini membuat Mataram terbagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Tidak ada warga Cina yang kembali ke Batavia usai tragedi ini. VOC kembali memberikan izin untuk masyarakat Cina tinggal di sebelah Selatan tembok kota. Daerah sebelah Selatan tembok kota sendiri merupakan ladang tebu dan berawa milik adiwangsa asal Bali, Arya Glitok. Kini, pecinan baru itu disebut dengan kawasan Glodok, sebutan yang sangat mirip dengan pemiliknya.


2. Tragedi November 1967

Berita Sejarah Indonesia

Tragedi pembantaian suku Tionghoa secara besar-besaran kembali terjadi pada November 1967. Kejadian ini dikenal sebagai Tragedi Mangkuk Merah. Pembantaian ini sendiri disutradarai oleh TNI dengan melibatkan suku Dayak untuk membantai suku Tionghoa. Meski memiliki hubungan yang baik selama ratusan tahun, nyatanya Suku Dayak dapat diprovokasi oleh pihak TNI. Senada dengan TNI, Suku Dayak yang terprovokasi mulai menyerukan perang terhadap suku Tionghoa. Tidak sedikit Suku Tionghoa yang dibantai oleh TNI dan Suku Dayak pada masa itu. Tragedi ini sendiri sangat berbau Rasialisme. Dari data  yang didapatkan, lebih dari 3.000 warga Indonesia keturunan suku Tionghoa menjadi korban pembantaian ini.

Baca Juga : Lakukan Hal Ini Saat Bercinta Untuk Memuaskan Pasanganmu !!!

Awal Mula Terjadinya Kerusuhan

Berita Sejarah Indonesia

Sebelum pergantian masa pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru, Soekarno terlibat konfrontasi dengan pihak Inggris. Dimana pada saat itu, pemerintah Indonesia menolak pembentukan Federasi Malaysia oleh Negara Koloni Inggris. Penolakan ini didasari oleh Presiden Indonesia, Soekarno yang memang dikenal anti terhadap imperialisme. Soekarno menganggap Federasi Malaysia hanya sebagai akal-akalan Inggris untuk mempertahankan eksistensi mereka di Asia Tenggara. Selain itu, menurut Soekarno pembentukan Negara “Boneka” Malaysia ini dapat menghambat jalannya revolusi Negara Indonesia. Atas dasar ini, Soekarno menyerukan untuk menghancurkan Negara “Boneka” Malaysia, yang dikenal dengan istilah “Ganyang Malaysia”.

Berita Sejarah Indonesia

Sependapat dengan Soekarno, rakyat Kalimantan, khususnya Kalimantan Utara juga menolak pembentukan Federasi Malaysia yang digagas Negara Inggris. Mendapat dukungan dari Rakyat Kalimantan Utara, Bung Karno menugaskan Menterinya, Oei Tjoe Tat untuk mengumpulkan massa. Oei Tjoe Tat berhasil mengumpulkan lebih dari 900 Orang keturunan Tionghoa di Kalimantan Utara untuk dilatih di Kalimantan Barat. Dari sinilah terbentuk Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) dan Pasukan Gerakan Rakyat Sarawak (PGRS). Paraku dan PGRS dilatih dan dipersenjatai oleh pemerintah Indonesia untuk mendukung Indonesia dalam Konfrontasi Indonesia melawan Malaysia dan Inggris. Paraku dan PGRS sendiri berada dibawah komando Brigjend Supardjo.

Tumbal Pemerintahan Orde Baru

Berita Sejarah Indonesia

Pada tahun 1965, terjadi gejolak politik yang sangat hebat di Indonesia. Hal ini ditandai dengan lengsernya Soekarno setelah dikudeta Soeharto. Pergantian ini menjadikan tanda era pemerintahan Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto. Pemerintahan Orde Baru Soeharto tidak sependapat dengan Soekarno dalam hal pembentukan Federasi Malaysia. Soeharto justru ingin berdamai dengan Inggris dan mendukung terbentuknya Federasi Malaysia. Hal ini tentunya tidak mengherankan, sebab dibalik lengsernya Soekarno, pihak Inggris lah yang membantu Soeharto mengambil tampuk kekuasaan tertinggi di Indonesia. Akibatnya, Soeharto menjadikan Paraku dan PGRS, pasukan yang dibentuk Soekarno sebagai musuh pemerintah Indonesia. Untuk menumpas Paraku dan PGRS, Soeharto dibantu oleh Militer Malaysia dan Inggris.

Kumpulan Situs Judi Poker Online Terpercaya di Indonesia ada DISINI !!!

Operasi penumpasan Paraku dan PGRS dinamakan dengan Operasi Sapu Bersih atau disingkat Saber. Operasi Saber dilakukan dalam 3 tahap, Saber I, II, dan III. Ketiganya dikomandoi oleh Brigjend AJ Witono dimulai sejak April 1967 s/d Desember 1969. Dalam Operasi inilah terjadi tragedi Mangkuk Merah dimana terjadinya penculikan dan kekerasan yang ditujukan kepada Temenggung Suku Dayak di Sanggau Ledo. Pihak TNI lalu menuduh Paraku dan PGRS sebagai pelaku penculikan tersebut. Propaganda ini kemudian semakin diperkuat dengan penemuan sembilan mayat tokoh dayak oleh TNI. Temuan mayat ini dimanfaatkan oleh TNI dengan memanas-manasi Suku Dayak agar melakukan balas dendam terhadap Paraku dan PGRS.

Berita Sejarah Indonesia

Suku Dayak mulai terprovokasi dan memburu pasukan Paraku-PGRS bersama TNI. Gerakan untuk menumpas Paraku dan PGRS ternyata tidak menargetkan anggota Paraku dan PGRS saja. Penumpasan yang dilakukan Suku Dayak dilakukan secara menyeluruh kepada seluruh etnis Tionghoa di Kalimantan Barat. Akibat Tragedi ini, sebanyak lebih dari 3.000 suku Tionghoa dibantai oleh Suku Dayak dan TNI. Banyak pula yang warga Tionghoa yang memutuskan pindah dari pedalaman ke daerah perkotaan. Tragedi ini sendiri lahir dari perkawinan antara Imperialisme dan Rasialisme dengan menjadikan suku minoritas sebagai tumbal.


3. Tragedi 13 Mei 1998

Berita Sejarah Indonesia

Lagi, Tragedi pembantaian suku minoritas Tionghoa untuk dijadikan tumbal pemerintahan Indonesia. Tragedi Mei 1998 mendapatkan perhatian besar dari Dunia. Genosida terhadap suku Tionghoa ini kembali dipicu oleh Militer Indonesia. Berawal dari kematian 4 Mahasiswa Trisakti yang melakukan demo atas pemerintahan Orde Baru. Kematian 4 Mahasiswa Trisakti (Elang Mulia Lesmana, Hery Hartanto, Hafidhin A. Royan, dan Hendriawan Sie) memicu semangat Mahasiswa lain untuk melakukan demo secara besar-besaran. Namun, dapat dipastikan membludaknya massa untuk melakukan demo lanjutan menyusul kematian 4 Mahasiswa pada demo sebelumnya bukan dari kalangan Mahasiswa semua. Pada awalnya mahasiswa melakukan unjuk rasa kepada pemerintahan Orde Baru karena krisis Ekonomi yang melanda Indonesia. Dimana pada saat itu mata uang Rupiah terus mengalami penurunan. Selain itu, hasil pemilu pada tahun 1997 yang kembali mengangkat Soeharto sebagai Presiden Indonesia.

Berita Sejarah Indonesia

Terpilihnya kembali Soeharto menjadi Presiden Indonesia, membuat Mahasiswa geram lantaran kabinet kerja yang dibentuk Soeharto sarat akan KKN. Ditambah dengan krisis Moneter yang sedang dialami Indonesia, para Mahasiswa bergerak untuk melakukan demo serta mengajukan beberapa tuntutan. Para Mahasiswa menyerukan 3 tuntutan, Penurunan harga Sembako, Penghapusan KKN, dan terakhir menuntut Soeharto turun dari kursi kepresidenan. Bukannya didengar, demo yang digelar Mahasiswa justru menelan korban 4 Orang Mahasiswa Trisakti. Kerusuhan meletus saat gelaran Demo jilid kedua yang dilakukan Mahasiswa justru mengarah kepada suku tertentu. Hal ini dikarenakan adanya provokasi yang dilakukan pihak tertentu kepada Mahasiswa yang sudah tersulut emosinya terhadap pemerintahan Orde Baru. Lagi-lagi suku minoritas Tionghoa dijadikan sasaran tumbal untuk pemerintahan Indonesia. Kerusuhan terjadi dibeberapa kota di Indonesia selain Jakarta dan menelan korban lebih dari 1.500 orang suku Tionghoa dilaporkan Meninggal. Sedangkan untuk korban luka-luka tidak tercatat jumlahnya.

Artikel Menarik Lainnya : Ini Nih Alasan Wanita Mendesah saat Nge-Seks.

Pelaku Kerusuhan 13 Mei 1998

Berita Sejarah Indonesia

Akibat kerusuhan 13 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri dari kursi Kepresidenan. Tampuk kekuasaan yang dipegang Soeharto dilanjutkan oleh B.J Habibie. Resmi menggantikan Soeharto, Habibie membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). TGPF dibentuk Habibie untuk mencari dalang kerusuhan 13 Mei 1998. Beberapa fakta ditemukan TPGF, salah satunya Universitas Trisakti sebagai titik awal terjadinya kerusuhan 13 Mei 1998. TGPF juga menyatakan pelaku kerusuhan memiliki 2 Golongan. Golongan pertama, Massa pasif yang diprovokasi menjadi Massa Aktif. Golongan Kedua, Provokator. Golongan ini sendiri bukan dari kalangan Mahasiswa. Diyakini berasal dari Militer. Secara fisik tampak terlatih. Sebagian dari mereka memakai seragam sekolah seadanya saja (Tidak lengkap). Ciri lainnya dari Provokator ialah tidak ikut menjarah, serta segera meninggalkan lokasi setelah gedung atau barang terbakar untuk menutupi jejaknya.

Berita Sejarah Indonesia

Para Provokator ini juga yang membawa dan menyediakan alat untuk merusak maupun membakar gedung-gedung untuk menciptakan suasana lebih kacau lagi. Kerusuhan 13 Mei 1998 juga hampir sama dengan Tragedi Mangkuk Merah. Kebencian secara Rasial sangat tercium dalam tragedi ini. Lagi-lagi Rasial dijadikan tumbal untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan. Selain melakukan pembunuhan, tidak sedikit wanita dan anak-anak perempuan keturunan etnis Tionghoa mengalami pelecehan seksual saat kerusuhan terjadi. Kerusuhan 13 Mei 1998 menjadi Genosida terakhir terhadap suku Minoritas, Suku Tionghoa.

Dari ketiga tragedi diatas dapat kita lihat dimana masyarakat Indonesia sangat mudah diprovokasi. Menindas suku Minoritas yang berjiwa Nasionalisme. Membela Negara namun akhirnya Dibantai saudara tanah air sendiri. Tentunya kita tidak ingin hal ini kembali terjadi lagi di Indonesia. Mari berkaca dan jangan mudah terprovokasi oleh golongan tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari memecah belah kehidupan bermasyarakat Negara Indonesia.

2 thoughts on “Indonesia dan Pembantaian Suku Tionghoa Berjiwa Nasionalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by Live Score & Live Score App